Osimertinib adalah obat terapi target golongan EGFR-TKI generasi ketiga yang digunakan pada jenis kanker paru bukan sel kecil atau Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) tertentu.
Berbeda dengan kemoterapi yang bekerja terhadap sel yang membelah cepat secara umum, osimertinib bekerja lebih spesifik dengan menghambat sinyal EGFR yang mendorong pertumbuhan sel kanker.
Osimertinib terutama diberikan pada pasien kanker paru dengan mutasi EGFR tertentu, terutama:
EGFR exon 19 deletion
EGFR exon 21 L858R
Karena itu, pemeriksaan mutasi EGFR sangat penting sebelum menentukan terapi.
Sampel dapat berasal dari jaringan tumor maupun pemeriksaan darah tertentu atau liquid biopsy. Bila hasil dari darah negatif tetapi kecurigaan klinis tetap tinggi, pemeriksaan jaringan dapat tetap diperlukan.
Dosis yang paling sering digunakan adalah:
80 mg, diminum 1 kali sehari.
Obat dapat diminum dengan atau tanpa makanan.
Usahakan diminum pada waktu yang kurang lebih sama setiap hari dan jangan menghentikan obat sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Osimertinib memiliki beberapa kelebihan penting.
Obat ini efektif menghambat kanker paru dengan mutasi EGFR dan memiliki kemampuan penetrasi ke sistem saraf pusat yang baik.
Hal ini penting karena kanker paru EGFR-mutated memiliki kecenderungan menyebar ke otak.
Osimertinib dapat digunakan pada beberapa kondisi berbeda, mulai dari kanker yang telah dioperasi hingga penyakit lokal lanjut dan metastatik.
Pada NSCLC EGFR-mutated yang telah direseksi, osimertinib dapat diberikan sebagai terapi adjuvan untuk menurunkan risiko kanker kambuh.
Studi ADAURA menunjukkan manfaat survival yang bermakna.
Pada pasien stadium IB–IIIA, angka overall survival 5 tahun sekitar 88% dengan osimertinib dibandingkan 78% dengan placebo.
Artinya, osimertinib tidak hanya menunda kekambuhan tetapi juga terbukti memperpanjang harapan hidup pada kelompok pasien ini.
Setelah kemoradiasi, osimertinib dapat diberikan pada pasien dengan NSCLC stadium III unresectable dengan mutasi EGFR tertentu apabila penyakit tidak mengalami progresi.
Studi LAURA menunjukkan median progression-free survival sekitar:
39,1 bulan dengan osimertinib
dibandingkan
5,6 bulan dengan placebo.
Risiko progresi atau kematian berkurang sangat besar dengan hazard ratio sekitar 0,16.
Pada kanker paru EGFR-mutated stadium lanjut, osimertinib merupakan salah satu terapi utama lini pertama.
Studi FLAURA sebelumnya menunjukkan median progression-free survival sekitar:
18,9 bulan dengan osimertinib
dibandingkan
10,2 bulan dengan EGFR-TKI generasi sebelumnya.
Salah satu perkembangan penting beberapa tahun terakhir adalah penggunaan osimertinib bersama kemoterapi platinum + pemetrexed sebagai terapi lini pertama.
Studi FLAURA2 menunjukkan bahwa kombinasi tersebut dapat memberikan kontrol penyakit lebih lama dibandingkan osimertinib sendiri.
Update overall survival yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan:
Median overall survival:
Osimertinib + kemoterapi:
47,5 bulan
Osimertinib saja:
37,6 bulan
Hazard ratio kematian:
0,77
Artinya, kombinasi osimertinib dengan kemoterapi memberikan keuntungan survival dibandingkan osimertinib monoterapi pada populasi studi.
Namun manfaat ini harus dipertimbangkan bersama risiko efek samping yang lebih tinggi.
Efek samping grade ≥3 terjadi sekitar:
70% pada kombinasi osimertinib + kemoterapi
dibandingkan
34% pada osimertinib saja.
Karena itu, tidak berarti semua pasien harus mendapatkan kombinasi. Pemilihan terapi mempertimbangkan kondisi pasien, beban penyakit, lokasi metastasis, performa pasien, komorbid, serta preferensi pasien.
Efek samping yang sering terjadi antara lain:
Diare
Ruam kulit
Kulit kering
Kelainan kuku
Sariawan atau stomatitis
Penurunan nafsu makan
Lemas
Sebagian besar dapat dikontrol dengan terapi suportif dan pemantauan.
Namun terdapat beberapa efek samping yang lebih jarang tetapi penting.
Sesak napas baru atau semakin berat
Batuk yang bertambah tanpa penyebab jelas
Demam disertai sesak
Berdebar berat atau pingsan
Bengkak pada tungkai
Diare berat atau terus-menerus
Salah satu efek samping yang perlu diperhatikan adalah interstitial lung disease atau pneumonitis.
Osimertinib juga dapat menyebabkan perubahan QT pada elektrokardiogram serta gangguan fungsi jantung pada sebagian kecil pasien.
Karena itu dokter dapat melakukan pemeriksaan EKG, elektrolit, atau echocardiography pada pasien tertentu.
Bukan.
Osimertinib merupakan terapi target.
Kemoterapi menyerang sel yang membelah cepat, sedangkan osimertinib menghambat protein EGFR tertentu yang menjadi salah satu pendorong pertumbuhan kanker.
Pada beberapa pasien, keduanya dapat diberikan bersama.
Tidak selalu.
Pada penyakit metastatik, tujuan terapi umumnya adalah mengontrol kanker selama mungkin, mengurangi gejala, mempertahankan kualitas hidup, serta memperpanjang survival.
Pada kanker stadium lebih awal setelah operasi, osimertinib diberikan untuk mengurangi risiko kekambuhan dan meningkatkan kemungkinan pasien tetap bebas penyakit lebih lama.
Kanker paru saat ini tidak lagi diterapi hanya berdasarkan lokasi dan stadium.
Karakteristik molekuler tumor juga sangat penting.
Pada pasien dengan kanker paru adenokarsinoma, pemeriksaan biomarker seperti EGFR dapat menentukan apakah pasien mempunyai kesempatan mendapatkan terapi target seperti osimertinib.
Karena itu:
Kenali mutasi tumornya.
Pahami pilihan terapinya.
Minum obat secara teratur.
Laporkan efek samping sejak dini.
Lakukan evaluasi berkala sesuai anjuran dokter.
Terapi kanker paru semakin berkembang.
Dengan pemeriksaan molekuler yang tepat, pengobatan dapat semakin personal dan semakin sesuai dengan karakteristik kanker masing-masing pasien.